Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Kapuas
PELEPASAN KONTINGEN KABUPATEN KAPUAS KE FESTIVAL BUDAYA ISEN MULANG 2012 DI PALANGKA RAYA
DIAH OKTAVIANI, WAKIL I PUTRI PARIWISATA KABUPATEN KAPUAS 2012Grand Final Pemilihan Putra Putri Pariwisata Tingkat Kabupaten Kapuas Tahun 2012 yang dilaksanakan Selasa malam tanggal 3 April 2012 pukul 20.00 sampai 23.15 WIB di Gedung Kesenian Gandang Garantung Kuala Kapuas menobatkan Diah Oktoaviani yang bernomor peserta 28 sebagai Wakil I Putri Pariwisata.
Sukses Diah meraih Runner Up Putri Pariwisata Kabupaten Kapuas Tahun 2012 adalah kejutan besar sebab persaingan yang dijalani terbilang ketat. Biarpun begitu, total poin dari dewan juri yang terdiri dari Yuliana Butar Butar (Disbudpar Provinsi Kalteng sebagai Ketua / Juri I), Zuaimy Amran, S. Sos (DPD ADWINDO Provinsi Kalteng / Juri II) dan Richardo (DPC ADWINDO Kabupaten Kapuas / Juri III) memberikan nilai 570 poin kepadanya sehingga terpaut 15 poin dari Juara I Ursula Betyn Tortet.
Diah dilahirkan di Kuala Kapuas pada tanggal 1 Oktober 1995, beragama Islam, putri dari Bapak Hairin dan ibu Rajakiah. Diah memiliki hoby menari, menyanyi dan membaca.
Dalam hal berorganisasi, Diah menduduki Sekretaris OSIS SMA Negeri 3 Kuala Kapuas (2011/2012), Biro Humas SMAGAPALA Kuala Kapuas (2011-sekarang) dan Anggota PMR. Sementara prestasi olah raga dan seni siswa, Diah ikut sebagai Juara II Porseni Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah katagori Vokal Group (2009), Juara II Drum Band Tingkat Provinsi Kalteng (2009) dan Juara III Paduan Suara Tingkat Kabupaten Kapuas (2010).
Bagi yang ingin membuka kontak dengan Diah dapat menghubungi rumahnya di Jalan Tiung VII No. 128 Kuala Kapuas dengan nomor kontak handphone 0852 5244 4512 dan e-mail
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
. DONNY ADITIA, WAKIL I PUTRA PARIWISATA KABUPATEN KAPUAS 2012Grand Final Pemilihan Putra Putri Pariwisata Tingkat Kabupaten Kapuas Tahun 2012 yang dilaksanakan Selasa malam tanggal 3 April 2012 pukul 20.00 sampai 23.15 WIB di Gedung Kesenian Gandang Garantung Kuala Kapuas menobatkan Donny Aditia yang bernomor peserta 22 sebagai Wakil I Putra Pariwisata.
Sukses Donny meraih Runner Up Putra Pariwisata Kabupaten Kapuas Tahun 2012 adalah pengalaman yang sangat berharga karena tahun depan sudah terbuka kesempatan yang lebih besar.
Akumulasi poin dari dewan juri yang terdiri dari Yuliana Butar Butar (Disbudpar Provinsi Kalteng sebagai Ketua / Juri I), Zuaimy Amran, S. Sos (DPD ADWINDO Provinsi Kalteng / Juri II) dan Richardo (DPC ADWINDO Kabupaten Kapuas / Juri III) memberikan nilai 580 poin kepada Donny sehingga terpaut 10 poin dari Juara I Julian Daniel.
Donny Aditia dilahirkan di Kuala Kapuas pada tanggal 1 September 1995, beragama Kristen Protestan, tinggi badan / berat badan 171,5 cm / 65 kg, putra dari Bapak John Oktoberiman, Msi dan ibu Tonisiana Langkahan, Sth.
Donny atau Adit memiliki hoby membaca, mendengarkan sekaligus memainkan musik, menari dan olah raga bola basket. Dalam hal berorganisasi, dia pernah menduduki Ketua OSIS SMP Negeri 1 Kahayan Hilir (2009/2010) dan OSIS SMA Negeri 1 Kuala Kapuas.
Dalam prestasi akademis dan olah raga siswa, Adit pernah Juara I Cerdas Cermat 4 Pilar Bernegara Tingkat Kabupaten Kapuas (2012), Juara I Kompetisi Basket SMANSA Cup 7 (2011), Juara I kompetisi Basket SMANSA Cup 8 (2012), Juara I Basket Pelajar Cup (2011) dan Juara I Basket Bupati Cup di Pulang Pisau (2011).
Bagi yang ingin membuka kontak dengan Adit dapat menghubungi rumahnya di Jalan Piau No. 32 Kuala Kapuas dengan nomor kontak 0513 – 61053 atau langsung handphone-nya 0852 4939 1333.
Kuta Bataguh III
Oleh : ABDUL FATAH NAHAN
Beberapa orang menyelam dan menarik jangkar kedaratan. Tidak tanggung- tanggung lagi, Nyai Undang turun bertempur. Ia langsung mencari raja Sawang saking marahnya, mengingat kematian ibunya disebabkan ulah orang-orang dari laut ini. Didampingi Sangalang, calon suaminya yang hanya mengawalnya jika ada yang ingin membokong , Nyai Undang berhadapan langsung dengan raja Sawang. Pemimpin negeri Kuta Bataguh ini yang rambutnya terurai hingga ke punggung telah bersumpah untuk berkeramas dengan darah musuh utamanya yang dianggapnya tidak beradat itu. Ia mengamuk dengan ganasnya, hingga suatu saat duhungnya menembus badan raja Sawang. Seluruh pasukan itu dihancurkan , bagi yang menyerah dijadi-kan jipen (budak). Perang itu berlangsung hanya dalam waktu sehari saja, menjelang senja semua sudah berakhir dengan pihak Kuta Bataguh Cuma berpuluh-puluh orang yang mendapat luka ringan. Terhadap para pemimpin pasukan penyerang yang dengan tulus hati menyerah dan bersumpah setia menjadi warga Kuta Bataguh, dilaksanakan pembauran berupa perkawinannya dengan penduduk Kuta Bataguh dan d iberi gelar secara adat Dayak. Mereka menyadari sebab musabab permasalahan, mereka itu adalah tamanggung Pandung yang merupakan nenek moyang suku Dayak Bakumpai, tamanggung Rangas yang menjadi nenek moyang orang-orang Berangas dan tamanggung Imat yang menjadi nenek moyang orang-orang Alalak. Setelah pertempuran usai serta mayat dari kedua belah pihak dikuburkan baik-baik, dilaksanakan upacara mamapas petak danum (mendinginkan negeri) dan menyaki kawan pangkialima (meneguhkan hati para pahlawan dengan mengoleskan darah hewan korban sebab mereka telah banyak membunuh secara adat Dayak. Mamalas petak danum dimaksudkan agar bumi kembali sejuk dan tetumbuhan di kebun serta ladang memberikan hasil yang baik seperti biasa, sebab telah tersiram darah yang panas akibat peperangan. Sedangkan menyaki kawan pangkalima serta seluruh pasukan bertujuan untuk meminta ampun kepada Ranying Hatalla (Tuhan bagi penganut agama Kaharingan) terhadap perbuatan membunuh manusia dalam pertempuran itu. Setelah semua itu selesai dilaksanakan Rambang berkata: “ Menurut pendapatku selagi para pangkalima masih ada disini lebih baik kita langsung-kan saja perkawinan saudara kita Sangalang dan Nyai Undang ini. Hal ini perlu agar tidak ada lagi lamaran sdekaligus penyerangan terhadap Kuta Bataguh”. Pendapat Rambang itu disetuju i dan perkawinan pun dilangsungkanlah. Selain itu dikawinkan pula Tambun dengan Bulan serta Bungai dengan Karing dan banyak pula yang lainnya bersama-sama sesudah semuanya itu selesai, Rambang, Ringkai serta anak buahnya kembali k e Tumbang Pajangei, Tambun menetap bersama isterinya di desa Tangkahen dan Bungai di tempat mertuanya di desa Tewang Pajangan. Para pahlawan suku Dayak lainnya pulang kembali ke desanya masing-masing Tamanggung Sangalang dan isterinya Nyai Undang memimpin negerinya Kuta Bataguh itu dengan masih menaruh perasaan cemas terhadap serangan lagi. Bukannya masalah tidak berani menghadapinya melainkan karena merasa segan sebab melibatkan dan merepotkan sanak keluarga lainnya dari pada menyusahkan orang lain mereka lalu menggaibkan diri. Penduduk biasa warga Kuta Bataguh lalu cerai berai pula pindah ke berbagai negeri mencari ketenteraman. Kuta Bataguh ditinggalkan dan hancur dengan sendirinya lapuk dimakan masa. Letaknya kini diperkirakan di desa Pulau Kupang Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas, antara Handel Alai dan handel Bataguh, yang merupakan areal persawahan penduduk. Sebagian orang memperkirakan bahwa Kuta Bataguh yang terletak pada daerah aliran Sungai Berito dan sungai kapuas serta dekat sungai Kahayan dengan banyak anjir (terusan, kanal) serta ramainya pelayaran, menjadi lemah sebab tidak mempunyai armada laut yang kuat. Selain itu gangguan keamanan yang melumpuhkan sendi perekonomian berupa serangan bajak laut; serta mulai berdatangannya bangsa-bangsa Eropah dengan persenjataan lengkap yang berniaga sekaligus mencari tanah jajahan seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggeris. Tak kurang pula sebab runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berlaku sebagai pelindung selama ini, serta belum terjalinnya suatu hubungan yang akrab dengan kerajaan Banjar sebagai tetangga yang berbeda dalam kepercayaan dan tidak ada lagi figur yang berwibawa besar seperti Maharaja Patih Simbar Laut. Kuta Bataguh bagi yang mempercayai merupakan tempat berhajat, karena itu pada tahun 1953 telah di dirikan di tempat itu tujuh buah tiang bendera sebagai peringatan bagi mereka yang mengabaikan diri serta dua buah pasah parapah (pondok kecil tak berdinding untuk menaruh benda yang dikeramatkan) tempat berhajat. Ketika pada bulan Desember 1986 ada yang menemukan benda berharga berupa potongan-potongan emas, maka pengagalian liarpun ramailah. Mula-mula hanya dilakukan masyarakat sekitar lokasi, namun tak dapat ditutupi. Akhirnya meluas melibatkan jumlah ribuan orang yang bekerja siang malam, datang dari luar propinsi terutama Kalimatan Selatan. Benda temuan berupa perhiasan-perhiasan dari emas berkadar antara 16 karat sampai 23 karat, berbagai macam senjata, manik-manik, batu permata fragmen gerabah dan sisa tiang kuta ataupun bangunan dari kayu ulin. Karena tidak mempunyai manuskrip yang otetik maka sejarah Kuta Bataguh cukup sulit untuk diungkapkan, cerita yang ada hanya bersumber dari mukut ke mulut serta melalui konfirmasi kebatinan yang sulit untuk dipertanggung jawabkan secara ilmiah. ************ S E K I A N Last Updated (Tuesday, 01 May 2012 08:04) Kuta Bataguh IIOleh : ABDUL FATAH NAHAN
Di antara mereka itu terdapat saudaranya seayah anak Tamanggung Sempung yakni Bungai, serta sepupunya Rambang, Ringkai, dan Tambun dari Tumbang Pajangel, Nyaring, Ramping Kandeng dari sungai Miri, isoh dari Batu Nyiwuh , Etak dari Tewah; Hanjungan dari Sare Rangan; Atang dari Penda Pilang; Sekaranukan dari Tumbang Manyangen; Renda, Rangka dan Kiting dari Tanjung Riu; Lapas dari Tumbang Miwan; Rumbun dan Hariwung dari Tumbang Danau; Dahiang dari Sepang Simin; Tombong dari Tangkahen; Uhen dari Manen Panduran; Kaliti dari Bukit Rawi; Rakau dari Tumbang Rungan; Kandang dari Gohong dan Andin dari Pangkoh. Menurut cerita jumlah semua mereka itu dengan para pengikutnya sekitar lima ribu orang.
Setelah semuanya berkumpul diputuskan bahwa negeri Tanjung Pamatang Sawang harus dibuatkan kuta (pagar atau benteng tradisional dari kayu ulin bulat, batang kelapa, batang pinang, bambu dan jenis palma lain) nya. Randan dari Mantangai memimpin pencarian kayu ulin di sungai Mangkutup anak sungai Kapuas. Kayu ulin bulat dengan sengkang (garis tengah, diameter) satu setenga h jengkal itu diramu, dibawa milir sampai ke Tanjung Pamatang Sawang dengan Lanting Panjang Garing Langit (dibuatkan rakitnya) selama tujuh hari tujuh malam. Dalam waktu singka t pula yakni selama lima hari lima malam seluruh negeri Tanjung Pamatang Sawang telah dikelilingi dengan kuta dari kayu ulin bulat yang dipasang tegak dengan rapat setinggi enam meter pada areal berukuran panjang seribu meter dan lebar seribu meter, hingga dinamakan Kuta Bataguh. Rambang dan Ringkai seperti kebiasaan Suku Dayak dalam menentukan semua langkahnya meminta petunjuk dengan memanggil burung elang lewat upacara manajah antang (upacara meminta petunjuk pada burung elang). Burung elang yang datang adalah Antang Kabukung Kawus yang berdiam di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting, hulu sungai Kahayan. Dari arah datangnya dan patinju (tempat hinggap burung elang yang di tentukan untuk sesuatu maksud) yang dihinggapinya, elang itu meramalkan bahwa mereka akan menang. Suara malahap (teriakan pelampiasan perasaan sebagai tanda setuju untuk secara bersama-sama) bergemuruh ketika melihat keadaan itu. Beberapa hari kemudian dari arah muara terlihatlah dua puluh lima buah pencalang mendekat i Kuta Bataguh. Umbul-umbul dan bendera kuning bergambar sauh warna merah dikelilingi tiga buah bintang adalah kenaikan raja Sawang, yang memimpi langsung penyerangan ini. Pencalang itu berlabuh mengitari pulau Kupang dimana Kuta Bataguh terletak . Menurut penuturan orang tua-tua jumlah lasykar raja Sawang ini lebih dari delapan ribu orang banyaknya. Beberapa sampan berbendera putih dari pencalang yang berdayung menuju ke tepian lalu merapat kelanting negeri. Salah seorang di antara utusan itu lalu berkata ; Raja kami Sawang yang juga menguasai seluruh pesisir pantai Borneo ini dengan panglima-panglimanya Latang, Lahuk, Awang dan Litung, datang kemari untuk menghukum penduduk negeri ini. Kesalahan itu karena membunuh adiknya Nawang serta pembantunyan Daeng Dong dan Dayoh Bolang serta seluruh pengiringnya awak tiga pencalang tiga bulan yang lalu”. Sebagai tetua, Rambang dengan ramah karena masih menghendaki penyelesaian secara damai berkata: “ Apakah raja Sawang dan para panglima tidak dapat datang kemari agar kami dapat menjelaskan duduk perkaranya ? Dengan segala kebesaran dan ketulusan hati kami sebagai lelaki sejati menjamin keselamatan paduka raja, walaupun nanti mungkin kesepakatan penyelesaian masalah tidak diperoleh”. Kami hanya menyampaikan titah paduka raja. Tidak ada tawar- menawar dengan kalian penduduk negeri ini selain menyerah tanpa syarat “. Lalu para utusan itu kembali ke pencalang rajanya. Rambang dan beberapa panglima lainnya kembali masuk dan menutup lawang (pintu) kuta dengan rapat. Beberapa saat kemudia n pencalang-pencalang lalu merapat ke tepi sungai. Orang-orang bersenjatakan tombak, pedang dan perisai tembaga berlompatan turun sambil berteriak-teriak gemuruh mengelilingi kuta. Setelah cukup dekat pasukan raja Sawang itu dihujani para pahlawan yang mempertahankan Kuta Bataguh dengan damek (anak sumpitan) beracun, tombak dan bambu runcing. Bagaikan semut mereka menaiki kuta dengan tali berjangkar. Ketika kepalanya muncul langsung disambut oleh tebasan mandau (senjata tradisional suku Dayak, sejenis parang). Demikian keadaan nya berulang-ulang hampir di sepanjang dinding kuta. Beratus-ratus orang memikul sepotong kayu bulat sebesar drum lalu, menumbukkannya berulang-ulang ke lawang kuta. Berdentung-dentung suaranya menimpa lawang kayu ulin setebal dua jengkal itu. Ketika itulah mereka dihujani damek beracun pula. Bagai lalang ditebas mereka jatuh bergelimpangan, namun kemudian diganti lagi dengan ratusan orang lainnya yang dilindungi dengan perisai tembaga. Untuk menghadapi ini Rambang, Ringkai, Tambun, Bungai, Sangalang, Nyaring dan para panglima lainnya menghujani mereka dengan lemparan batu-batu sebesar kepala disusul dengan damek beracun. Walaupun sudah ribuan jiwa melayang , namun belum juga merek a itu berhenti menyerang. Senja mendatang, merekapun lalu mundur kembali ke pencalangnya. Pada saat itulah tiba-tiba Tambun dan Bungai keluar lawang kuta dan menyergap mereka yang mundur itu. Terjepi t di antara pasukan Kuta Bataguh yang nyaris segar dengan Sungai Kapuas, ditambah lagi Tambun, Bungai dan semua mereka itu sudah sawuh, maka keadaan itu bagaikan air dari bendungan yang bobol. Pasukan raja Sawang itu hancur lebur, kini semua pencalang-pencalangnya pun telah dinaiki. Last Updated (Tuesday, 24 April 2012 08:15) |
























